First Moonlight
TVXQ5!
Rising Gods of the East
Tuesday, April 29, 2014
My First Love, My First Kiss
.
♡ MY FIRST LOVE, MY FIRST KISS ♡
.
Hei, aku…mencintaimu…sejak dulu…
.
.
.
Kami berteman sejak dulu, sejak kecil. Tanggal lahir kami tidak terlalu jauh, hanya berselang dua bulan. Dia…selalu menjadi orang yang menarik bagiku. Dia tidakah tampan tapi dia orang yang manis dan baik di mataku. Kami menghabiskan duabelas tahun bersama, sekolah dan tempat tinggal kami. Itulah mengapa aku merasa dekat dengannya.
Sejak aku duduk di taman kanak-kanak, yang kutahu, ia selalu menjadi idola anak-anak perempuan. Karena kebaikan hatinya dan wajahnya yang tampak manis. Aku masih ingat, senyumnya sungguh lucu saat itu. Kami dan kedua temanku yang lain sering pulang sekolah bersama. Karena masih belum bisa mengendarai sepeda, kami terbiasa jalan kaki ke sekolah. Sesekali aku berpikir bahwa akan sangat menyenangkan jika aku jalan berdua dengannya, karena kedua temanku yang lain berada di sisi lain jalan.
Saat aku berkumpul dengan teman-teman perempuanku selepas bermain, topik tentang orang yang kami sukai pun jadi bahasan. Tiga dari lima teman perempuanku memilihnya, meski terpaksa kedua temanku terpaksa ganti pilihan. Saat tiba giliranku, aku hanya menunduk. Sejujurnya, aku ingin memilihnya tapi aku tidak bisa memilih yang sudah ditunjuk temanku yang lain.
“Jangan bilang kalau kamu juga akan memilih orang yang sama dengan mereka.” Kata ‘tetua’ kami yang tentu membuatku dihadiahi tatapan sinis dari ketiga temanku.
Aku hanya mampu menelan ludah secara paksa, “Err, bukan. Lagipula, Linda sudah memilihnya. Bukankah tidak ada yang boleh sama?” kataku mengelak, “Aku pilih…” aku menyebutkan nama sepupuku yang sering menginap di rumah nenekku saat lebaran. Hanya nama itu yang sempat singgah di pikiranku.
Sejak saat itu, aku berusaha mengalah, memendam perasaan sukaku padanya. Hei, D. Mungkin kita tidak bisa bersama. Seseorang telah memilihmu. Lucunya, saat kami bermain, ada saja tingkah polah kami yang seakan mencoba menarik perhatiannya. Entah duduk di depannya, saling melempar candaan, apa sajalah.
Di luar kendali, aku pun sering mengalami hal-hal yang kebetulan dengannya. Saat aku keluar rumah, bertepatan dengannya yang juga tengah melintas di depanku. Aku..hanya bisa berpura-pura cuek dan tak peduli. Meski dalam hatiku, aku menghitung dan berdebar. Jika hal ini terus terjadi selama tiga kali, maka kita adalah takdir, kataku dalam hati.
.
.
.
Selang waktu menginjak kelas lima sekolah dasar, sekolah mengadakan kemah Sabtu-Minggu. Aku senang, tentu saja. Kami bersenang-senang. Tak terasa aku sudah memasuki masa puber dan semakin banyak anak laki-laki yang ─terlihat─ menarik perhatianku. Entah menggodaku lewat kata-kata atau tingkah laku secara langsung.
Bahkan…saat seorang anak laki-laki menarik tanganku dan memerangkapku dalam kukungannya, jantungku berdebar. Ia mendekatkan wajahnya ke arahku tapi aku bergegas mendorongnya dan berteriak, “Apa yang kamu lakukan?” dan ia hanya tersenyum aneh. Di belakangnya, beberapa anak laki-laki juga tersenyum aneh padaku.
Selalnjutnya, aku berbalik dan pergi. Oh damn! Apa yang ada di pikirannya? Dia kira kami umur berapa? Kami masih SD dan ia sudah bersikap menggoda layaknya orang dewasa. Dasar gila! Gerutuku dalam hati. Tapi, hei, D, apa kau tidak cemburu? Bahkan teman-temanmu sudah mulai menggapaiku.
Saat kita hampir lulus, dia selalu berhasil membuatku malu. Padahal hanya sekadar meminjaminya type ex. Meski aku bilang, “Memangnya kamu tidak punya uang untuk membelinya?” tapi sesungguhnya jantungku selalu bergetar nyaman tiap melihatmu tersenyum menggodaku.
.
.
.
Tapi semenjak kita berpisah sekolah, aku merasa kosong. Tak ada lagi yang bisa membuatku tersenyum malu. Kala aku ke barat, kau ke timur. Jalan kita berbeda. Dan kau, mulai mengerti arti ‘pacaran’. Hubungan yang belum kutahu manfaatnya. Sekalipun aku ingin mencobanya bersamamu. Tapi naas, lagi-lagi aku hanya mampu memendamnya.
Sekarang pun, kita masih berbeda sekolah. Bahkan akan menginjak usia 19 tahun, di mana kita harus memutuskan langkah kita. Kau dan aku berbeda. Aku ingin sekolah tinggi, menambah banyak teman. Tapi kau, bertahan dengan baktimu pada orangtua dan pergi ke arah yang berbeda denganku.
Benarkah kita akan berpisah lagi?
Jika iya, jangan memberiku harapan palsu. Hentikan senyum bodohmu itu. Aku lebih suka saat aku membencimu daripada saat aku terombang-ambing karena perasaanku. Dulu aku sempat membencimu karena sifatmu yang berubah tapi kau kembali dengan senyum itu. Senyum yang membuatku tak bisa berpaling darimu.
Hentikan itu atau aku aka mati karena harapan palsumu!!!
.
.
.
“Hei, berapa lama kita tidak bertemu?” tanyamu padaku, sambil duduk di sebelahku dan melempar senyum terbaikmu. Lagi-lagi aku terjatuh dalam pesonamu.
Pura-pura tak peduli, aku kembali melanjutkan cerita yang sedang kukerjakan. Jemari ini masih menari di atas huruf dan angka. Mengetikkan beberapa kata yang akan sulit kau susun. Aku tahu, kau tidak bisa menyusun kata-kata dengan baik, D.
“Tujuh tahun, mungkin.” Jawabku seadanya. “Kudengar kau baru pulang dari tempat tugasmu. Kapan kau pulang?” tanyaku membuka perbincangan kami karena di antara kami berdua akulah yang paling ahli mencari topic pembicaraan.
“Tadi pagi. Aku lelah.”
“Kalau kau lelah kenapa bisa di sini? Kau bisa tidur di rumah seharian, kan?” aku menoleh padanya, yang sedang menatap langit, “Apa tempat tidurmu sudah dibuang?” candaku.
Ia tertawa nyaring, bahkan suara tawanya masih sama. Ia menatapku lalu menjawab, “Tidak, bukan karena tempat tidurku. Aku hanya ingin mencari udara segar. Keluargaku sedang menyiapkan acara makan malam, penyambutanku katanya. Kau akan datang?”
Aku mengangkat bahu lalu mengalihkan tatapanku, kembali menatap netbook di pangkuanku. “Jika kau memaksa, aku akan datang.”
Ia tertawa lagi. Entah apa yang ia tertawakan kali ini.
Hening beberapa lama. Hanya hembusan angin musim pancaroba yang menyapa kami. Member ketenangan sekaligus menghapus kecanggungan. Meski begitu, tak ada satupun dari kami yang ingin buka suara.
“Hmm, kau tidak haus?” tanyanya memecah keheningan.
“Aku haus. Tapi minuman yang kubawa sudah habis.” Jawabku sekenanya. Aku tidak ingin terjebak lagi, jadi aku mencoba untuk tidak tertipu.
Tiba-tiba ia berdiri, “Aku akan pergi membeli minum. Sebentar.” Katanya sambil lalu. Meninggalkanku yang tengah mengernyit bingung.
Satu hembusan panjang kukeluarkan. Menutup benda di pangkuanku lalu meletakkannya di sebelahku. Tubuhku lelah. Aku memutuskan untuk berbaring karena kupikir dia pasti akan lama. Kupejamkan mataku, mencari ketenangan. Mengontrol diri.
.
.
.
Laki-laki itu tiba di bukit dengan dua kaleng minuman di tangannya. Setengah berlari ia menghampiri pohon satu-satunya di sana. Ia tidak akan melewatkan kesempatannya kali ini. Sudah lama ia menunggu kesempatan berdua dengan gadis impiannya itu. Cinta monyetnya. Cinta masa kecilnya. Cinta pertamanya.
“Ini aku_” laki-laki itu terdiam, ia hanya mendapati gadis itu terlentang di bawah pohon rindang itu. Ia tersenyum senang. Ia berjalan mendekat dan meletakkan kedua kaleng minuman di dekatnya lalu duduk di sebelah gadis itu.
Entah keberanian dari mana, tangannya membelai pelan rambut hitam itu. Ia sudah memimpikan hal ini bertahun-tahun yang lalu. Ia melebarkan senyumannya.
“Kau tahu, aku sudah lama menunggu momen seperti ini. Dan akhirnya, hal itu terjadi juga. Hari ini.”
Laki-laki itu memperhatikan wajah gadis itu, ia teringat rangkaian kejadian di masa kecilnya. Sejujurnya ia suka melihat gadis itu tersenyum di dekatnya, karenanya. Tapi hal itu tidak bisa ia lakukan saat mereka duduk di bangku sekolah menengah.
Semakin diperhatikan, gadis itu semakin menarik perhatiannya. Membiusnya, membuatnya tak sadar jika ia tengah mendekatkan wajahnya ke arah sang gadis. Memejamkan mata saat ia bisa merasakan hembusan nafas gadis itu. Saat hidung mereka bersentuhan, digesekkannya kedua kulit putih bertulang itu. membuatnya merasakan sensasi berbeda mendera tubuhnya.
Ketika satu mili lagi menyentuh bibir gadis itu…
.
.
.
Cup!
“Mmmppphhh…”
Aku membuka mataku buru-buru saat kurasakan nafas itu terasa sangat dekat denganku. Dan yang pertama kali kulihat adalah mata indahnya yang terpejam, tepat di depanku tanpa jarak.
“Aku pasti bermimpi!” teriakku dalam hati.
“Mmmppphhh….”
Dia…menekan bibirku. Ini gila! Tapi tubuhku, kenapa terasa lemas. Aku tidak bisa bergerak sama sekali. Dia…sudah menyedot tenagaku bersamaan dengan bibirnya yang mulai mengulum bibirku.
“Aku pasti sudah gila!” teriakku lagi, masih di dalam hati.
Ketika tenagaku mulai kembali, aku mencoba untuk mendorongnya tapi naas, aku kalah cepat dengannya. Ia sudah menahan kedua tanganku dan justru berpindah di atasku. Bahkan ia mulai menggigit bibirku hingga membuatku mengerang sakit dan berujung lidahnya yang masuk ke dalam mulutku.
“Matilah aku!”
Kupejamkan mataku, mencoba menikmati sekaligus mengumpulkan kekuatan untuk melawan. Saat ia lengah, aku mendorong tubuhnya dengan keras dan membuatnya terjatuh di sampingku.
Kuhirup udara di sekitarku dengan rakus seolah aku baru saja bangkit dari mimpi buruk. Setelah merasa cukup, aku beranjak dari dudukku. Mengambil netbook-ku dan melangkah menjauh tapi ia meneriakiku.
“TUNGGU!!!”
Aku segera berhenti di tempatku, masih tak jauh dari tempatnya duduk. Aku tidak mengatakan apa pun, hanya menunggunya mengatakan sesuatu. Member penjelasan mungkin.
Dia beranjak dari tempatnya, berjalan menghampiriku, lalu berhenti tepat beberapa puluh senti di depanku. Aku menatapnya penuh tanya tapi masih menutup mulutku. Sementara itu dia justru tampak ragu mengatakannya, hingga bermenit-menit berlalu ia tak mengatakan apapun. Membuatku kesal. Tapi saat aku hendak berkata, ia sudah mengatakan hal yang jauh dari perkiraanku.
“Aku mencintaimu.”
“Apa?” pekikku terkejut. Aku menoleh ke arah lain. “Aku pasti salah dengar.”
“Tidak!” dia beranjak mendekatiku lalu meraih wajahku, memaksaku untuk menatapnya. “Aku serius. Aku…menyukaimu…mencintaimu…sejak dulu.”
Aku menatapnya bingung. Menatap matanya, mencoba mencari kebohongan yang gagal kutemukan. “Oh sial!” umpatku dalam hati. “Jangan sampai aku terjatuh di lubang yang sama.”
“Aku menyukaimu sejak dulu tapi karena aku tahu, kau tidak akan keluar dari aturan keluargamu, aku tidak bisa meraihmu. Dan saat itu, aku belum mampu.” Ia menatapku dengan tatapan yang berbeda, lembut. “Sekarang, aku akan meraihmu, memperjuangkanmu. Jadi beri aku kesempatan.”
.
.
.
Sunday, December 29, 2013
TINGKATKAN OPTIMISME UNTUK CASSIOPEIA
Judul : The Briefcase
Penulis : Naz dan Mysti
Penerbit : Araska Publisher
Tahun terbit : 2013
Cetakan : I
Jumlah halaman: 239 halaman
Katergori : fanfiction
Naz dan Mysti adalah sepasang sahabat yang menyukai dunia menulis sejak sekolah dasar. Keduanya bertemu di sekolah menengah yang sama dan menjadi rekan menulis. Keduanya merencanakan cerita mereka setahun sebelum kelulusan. Selain itu, keduanya adalah Cassiopeia, sebutan untuk fans Dong Bang Shin Ki (DBSK), menjadi salah satu daya tarik bagi rekan penggemar boy band yang sama untuk membaca fanfic ini.
“The Briefcase” menceritakan tentang dua sahabat yang iseng jalan-jalan ke Korea untuk mengisi waktu liburannya. Namun terbesit sebuah ide gila dari Handini yaitu mendatangi gedung SM entertainment sekedar bertemu dengan idola mereka. Sahabatnya, Mel, memang murni ingin bertemu grup idolanya sedangkan Handini, jika bertemu DBSK, ia ingin memukul kepala Changmin, anggota termuda DBSK.
Mungkin dewi Fortuna sedang berpihak pada mereka, meski mengendap-endap dan sempat dikejar satpam gedung, mereka sempat bertemu dengan idolanya. Bahkan menjalankan misinya masing-masing. Sayangnya, pertemuan itu sangat singkat karena mereka tidak ingin terkena masalah dengan agensi terbesar di Korea itu.
Tapi, siapa sangka justru pertemuan singkat itulah yang membuat mereka bertahan lama di Korea. Pasalnya saat detik-detik keberangkatannya pulang ke Indonesia, justru ada panggilan dari bagian informasi bahwa paspor Handini tertinggal. Tak tahunya, yang menemukan paspor itu adalah leader DBSK. Bahkan sang leader-lah yang meminta mereka untuk tinggal lebih lama di Korea.
Dimulailah petualangan mereka untuk mempertemukan Yunho dan Changmin dengan JYJ, anggota DBSK yang hengkang dari SM entertainment. Berawal dari pertemuan Changmin dan Junsu hingga pertemuan kelima laki-laki jangkug itu yang membahas masa depan grup mereka.
Buku ini dibuat dengan bahasa yang komunikatif dan konflik yang menarik. Ringan tetapi cukup membuat pembaca ikut harap-harap cemas dengan akhir cerita ini. Meski begitu, buku ini memiliki kekurangan di bagian yang menggunakan Bahasa Korea. Sayang sekali terjemahan dalam Bahasa Indonesia-nya justru berada di halaman terakhir buku.
Buku “The Briefcase” ini mungkin bisa menjadi salah satu koleksi para penggemar K-pop, khususnya fans DBSK. Buku ini akan mengajarkan pada kita bahwa sikap optimis pasti akan berujung pada kebahagian.
NB: mohon kesediaannya untuk memberikan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki tulisan saya :)
HIDUP DAN CINTA YANG MENGINSPIRASI
Judul : Mimpi-mimpi Jokowi
Penulis : Haryo Wibisono
Penerbit : Real Books
Tahun terbit : 2012
Cetakan : I
Jumlah halaman: 276 halaman
Katergori : novel
Haryo Wibisono adalah seorang blogger yang aktif si beberapa blog dan sebegai blog desainer. Ia juga mengajar privat computer pada anak SD dan SMA. Motto hidup pria 33 tahun ini adalah “Kebahagiaan adalah jika kita berbuat salah kepada orang lain, namun bisa bersegera tahu dan bersegera pula untuk memperbaikinya.” Pria tambun ini pernah bekerja di beberapa perusahaan iklan, melalui media internet sebagai freelance writer.
Novel ini berkisah tentang kehidupan kecil Jokowi, yang kini kita kenal sebagai Gubernur DKI Jakarta. Masa kecil yang penuh perjuangan baginya dan keluarganya. Bagaimana dulunya ia dikenal sebagai anak yang nakal, meski hal itu wajar untuk anak-anak seumurannya. Juga mimpi-mimpinya untuk membahagiakan kedua orangtuanya. Selain menceritakan kerasnya kehidupan Jokowi di masa kecil, novel ini juga menceritakan kemurnian cinta antara bapak dan ibu Jokowi juga Jokowi sendiri.
Penulis sangat piawai dalam menyusun kata-kata sehingga setiap berpindah dari satu bab ke bab selanjutnya kita akan mendapat banyak hikmah di dalamnya. Tentang pelajaran hidup yang sesungguhnya. “Gantungkan cita-citamu setinggi surga karena kita berjuang di dunia ini tidak hanya untuk dunia tapi juga untuk bekal di akhirat nanti.” Setidaknya itulah salah satu petuah yang dapat kita ambil dari novel ini.
Hanya saja dalam novel ini masih ada satu dua kata yang diketik sama. Juga untuk pembaca yang tidak terbiasa membaca novel dengan penjelasan yang panjang dan minim dialog akan sedikit sulit untuk memahaminya.
Novel “Mimpi-mimpi Jokowi” ini cocok untuk dibaca semua kalangan, baik tua muda, laki-laki perempuan. Novel ini akan menginspirasi kita dalam menjalani hidup dan akan mengajari kita untuk selalu bersyukur dan berpikir dewasa.
NB: mohon kesediannya untuk memberikan komentar, sekedar kritik dan saran yang membangun sehingga saya bisa memperbaiki tulisan saya :)
BELAJAR JADI DETEKTIF ALA JAMAN EDO
Judul : The Demon in the Tea House
Penulis : Dorothy dan Thomas Hoobler
Penerbit : Dastan Books
Tahun terbit : 2009
Cetakan : I
Jumlah halaman: 320 halaman
Katergori : novel
Dorothy dan Thomas Hoobler adalah sejarawan serta penulis dari 60 buku, baik fiksi maupun nonfiksi, kebanyakan untuk pembaca muda. Society for School Librarians International memilih buku mereka “Showa; The Era of Hoirohito” sebagai buku terbaik pada tahun 1991. Buku-buku mereka dinilai memiliki keunggulan tersendiri. Buku “The Demon in the Tea House” ini merupakan seri kedua Kisah Seikei Konoike, setelah buku pertama yang berjudul “Tokkaido Inn.”
Buku ini menceritakan seorang pemuda bernama Seikei Konoike yang merupakan anak saudagar the di Jepang pada masa Shogun Yoshimune. Meski seorang anak pedagang yang kelak akan meneruskan usaha orangtuanya, Seikei masih berharap ia dapat menjadi samurai. Meskipun hal itu sangat tidak mungkin. Kebudayaan Jepang, tidak ada kenaikan kasta. Apalagi saudagar merupakan kasta terendah pada masa itu karena mereka hanya menjual barang yang telah jadi.
Berulang kali ayah Seikei mengatakan bahwa pemuda itu tidak akan bisa menjadi samurai, sekalipun ia terus belajar membuat puisi ─seperti yang biasa dilakukan samurai di Jepang pada umumnya. Tapi Seikei tetap berharap impiannya bisa terwujud hingga suatu saat ia tak sengaja membantu Hakim Ooka untuk menyelesaikan kasus pencurian permata berharga. Hakim Ooka menguji Seikei lebih jauh dan setelah kasus itu terbongkar, Hakim Ooka mewujudkan impian Seikei menjadi samurai yakni dengan mengadopsi Seikei menjadi anaknya.
Di buku kedua ini, Seikei berpetualang di Edo, ibu kota militer Jepang. Memecahkan kasus tentang Geisha misterius, pembakaran kota, dan dendam membara. Semua itu akan menjadi konflik yang sangat kental dalam buku ini. Kita juga akan diajak untuk belajar memecahkan kasus ala detektif.
Keunggulan buku ini adalah komunikatif dan dapat menciptakan latar suasana yang dapat dibayangkan oleh pembaca sehingga pembaca bisa ikut masuk ke dalam cerita. Selain itu, konflik yang diangkat juga menarik yang dikemas dengan pengetahuan-pengetahuan kecil dari masa Edo.
Hanya saja di buku ini kita akan banyak menjumpai istilah-istilah dalam bahasa Jepang, yang belum tentu kita pahami artinya. Penjelasan latar tempat sudah jelas namun untuk orang yang tidak mengetahui kondisi Jepang pada masa kekaisaran akan sulit untuk membayangkannya.
Nah, buku “The Demon in the Tea House” ini cocok untuk para pecinta novel detektif dan bertemakan Jepang. Buku ini akan mengajarkan pada kita untuk bagaimana mengatasi masalah dan berpikir dingin.
NB: mohon kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki tulisan saya :)
WHITE WINTER MIRACLE
Rasanya seperti mimpi….
Sepertinya baru kemarin aku memimpikan terbang ke Negeri Sakura dan menikmati acara-acara di setiap musimnya. Kini, mimpi itu bisa kucapai. Aku berdiri di antara ribuan partikel kecil berwarna putih yang berjatuhan dari langit. Ya, di Jepang memang sedang musim dingin. Kutengadahkan kepala dan tanganku, mencoba menikmati udara dingin yang tak mungkin bisa kucicipi di negara asalku, di mana hanya ada dua musim di sana.
Mataku menjelajahi setiap sudut bangunan di sekitarku. Terperangah karena gemerlapnya malam ini oleh lampu-lampu dari gedung-gedung itu. jalanan yang padat oleh para pejalan kaki membuatku sedikit tenang karena tidak ada polusi di sini. Aku kagum lagi.
Ini hari pertamaku dan itu wajar, bukan?
Mengingat lagi motivasiku ke negeri ini, aku tersenyum lebar. Bisakah aku bertemu mereka? Ini sudah malam dan seharusnya mereka sedang beristirahat di rumah mereka.
Dengan sisa tenaga dan secuil harapan, kulangkahkan kakiku lagi. Menghampiri ‘Cassiopeia’.
~ We’re the One, Eternally ~
Sebuah Audy hitam berhenti di depan pagar rumah. Seseorang keluar dari mobil itu tanpa mematikan mesin mobilnya ─mungkin lampu mobil itu bisa membantu penyinaran di sana─ bermaksud membuka pagar itu. Setelah menekan beberapa tombol, pagar itu terbuka dan menampakkan rumah mewah bercat cokelat kayu dengan halaman yang cukup luas.
Ketika laki-laki itu hendak berbalik masuk ke dalam mobil, ia melihat seseorang yang tengah berjongkok di tepi pagar rumah itu. Meski awalnya ragu, laki-laki itu tetap menghampiri orang itu. Semakin dekat ia menyadari jika sosok yang dilihatnya adalah seorang perempuan, terlihat dari rambut hitam panjang yang dibiarkan tergerai hingga menutupi kepalanya yang sedang menunduk. Tubuhnya tampak gemetar, mungkin kedinginan.
“Hei, daijobu ka?” tanya laki-laki itu sambil membungkukkan badannya. Menyejajarkan tubuhnya dengan posisi perempuan itu. (Hei, kamu baik-baik saja?)
Namun ia tak mendapatkan jawaban. Justru tubuh kecil itu semakin gemetar hebat. Karena khawatir, laki-laki jangkung itu meraih bahu perempuan itu. Sekian detik kemudian, tubuh kecil itu seperti kehilangan keseimbangan. Refleks diraihnya tubuh itu dan laki-laki itu menyadari satu hal, perempuan itu pingsan karena kedinginan.
~ We’re the One Eternally ~
Kepalaku terasa pusing, pening. Perlahan kubuka mataku sambil memegang keningku. Rasanya tanganku sedikit kebas. Kurasakan sebuah benda basah di atas dahiku yang aku yakini adalah sebuah kain untuk mengompres. Tapi, siapa yang memberiku kompres? Seingatku, aku belum pulang dari depan rumah ….
“Oh God!” pekikku terkejut sambil mendudukkan tubuhku yang justru membuat kepalaku sakit. Sekali lagi kupijat keningku yang trasa berputar.
“Hey, are you ok?” sebuah suara asing menyapa pendengaranku. Aku tak yakin dan segera menoleh ke sumber suara. Dan betapa terkejutnya aku saat aku sadar laki-laki yang duduk di depanku adalah…
“Changmin Oppa?”
Laki-laki jangkung itu mengerutkan keningnya. Mungkin terkejut karena aku tau namanya. Iyalah, aku tau namanya. Siapa yang tidak mengenal member termuda boyband papan atas Asia?
“Err, you know me?” tanyanya ragu.
Aku mengangguk mengiyakan sambil menatapnya dengan senyum terpatri di bibirku. Sungguh senang rasanya bisa bertemu dengan idolaku. Ya, aku adalah seorang Cassiopeia, fans TVXQ.
“My name is Saitou Ayumu.” Kataku sambil mengulurkan tangan padanya.
Dengan ragu, dibalasnya uluran tanganku sambil bertanya, “Are you Japanese?”
Aku menarik tanganku lalu menggeleng. “Ie. I’m Javanese.” Jawabku sambil tersenyum kecil. “I mean, I’m from Indonesia.” (Tidak. Aku adalah orang Jawa.)
“Nande?” pekiknya terkejut. Laki-laki bermarga Shim di depanku mengerjabkan matanya, terkejut. “Oh, I’m sorry. I mean, are you really from Indonesia?” (Apa?)
Aku mengangguk lalu membalasnya, “Yes, but I understand Japanese and Korean eventhough just little.”
Laki-laki berwajah kekanakan di depanku sedikit menganggukkan kepalanya mengerti. Tak lama kemudian, kudengar suara pintu terbuka dan masuklah seorang laki-laki berusia 27 tahun yang kukenal sebagai leader TVXQ. Yeah, he’s Jung Yunho.
“Apakah dia sudah sadar, Changmin-ah?” tanya laki-laki bermata tajam itu dengan bahasa Korea. Meski aku tidak mengerti secara keseluruhan tapi aku cukup mengerti maksudnya. Laki-laki itu membawa sebuah nampan berisi bubur dan susu coklat hangat yang ia letakkan di atas meja. “Are you ok?” tanyanya padaku. Matanya menatapku lembut.
‘Seperti inikah tatapan mematikannya? Sekalipun pada orang yang baru dikenalnya’
Sedikit gugup aku menjawab pertanyaannya, “Hmm, yes. I’m fine.”
Lak-laki manly itu tersenyum, menguarkan aura penuh karismanya. Sementara itu, aku melirik Changmin Oppa yang tengah memutar bola matanya. Mungkin terlalu silau dengan karisma leader-nya.
“So, what’s your name and where do you from?” tanyanya ramah.
“My name¬ is_”
“Nama Jepangnya Saitou Ayumu tapi dia orang Indonesia.” Potong Changmin dalam bahasa Korea. Aku sedikit sebal karena Changmin Oppa memotong kalimatku.
Sementara Yunho Oppa hanya mengangguk samar seolah mengerti. “Oh, kalau kau sudah cukup baikan makanlah ini.” katanya dalam Bahasa Inggris sambil menyerahkan semangkuk besar bubur, “dan…”
“Lekaslah pulang!” potong Changmin Oppa sambil meringis, mungkin karena merasa lucu dengan candaannya.
“Changmin!” bentak Yunho Oppa sambil mencubit lengan ‘adik’-nya. Yunho Oppa kembali menatapku dan mendudukkan diri di sebelah kananku, “Kalau boleh tau, kau tinggal di mana?”
Aku meletakkan mangkuk bubur di pangkuanku, rencana untuk makan dahulu sepertinya akan gagal. “Aku tinggal di Minato(1), Tokyo.”
Dua laki-laki di hadapanku menganggukkan kepalanya. “Bukankah itu daerah di sekitar kantor Avex?” tanya Changmin Oppa memastikan. Ia bahkan manatapku dan Yunho Oppa bergantian. Aku hanya tersenyum mengiyakan.
“Lalu, apa yang kamu lakukan di depan rumah kami?”
Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan mereka. Aku memang punya tujuan datang kemari tapi apakah aku harus jujur?
“Hyung, dia fans kita jadi wajar kan kalau dia kemari.” Sela Changmin memberi pengertian.
Yunho Oppa ber-‘oh’ ria sementara aku mencoba mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan maksudku. “Tapi…aku juga punya tujuan lain.”
~ We’re the One Eternally ~
“Aku tau, kalian pasti tidak tuli akan beberapa pernyataan ini tapi aku hanya ingin menegaskan bahwa aku juga menunggunya.”
“Menunggu apa?”
“Tentu saja kembalinya kalian berlima.”
“….”
“Aku mungkin hanya satu dari sekian ribu fans kalian yang belum tentu bisa mengubah pemikiran tapi_”
“Kembali bersama dalam waktu dekat bukanlah hal yang mudah.”
“Ya, memang. Aku tau itu.”
“….”
“Oppadeul, taukah kalian? Aku baru menjadi Cassiopeia pada tahun 2010 dan artinya itu saat permasalahan itu tercium media. Aku menyesal mengapa aku tidak menjadi Cassiopeia sejak dulu saja, sehingga aku bisa merasakan bagaimana menangis dan tertawa bersama kalian berlima. Tapi apa yang kudapatkan, kalian justru terpisah oleh dinding kasat mata. Itu menyakitiku.”
“….”
“Aku menyadari aku tidak bisa berbuat banyak, aku…hanya ingin mengatakan bahwa di luar sana, kami semua, Cassiopeia dan Bigeast, menunggu kembalinya kalian berlima. Mungkin tidak dalam waktu dekat ini tapi berjanjilah kalian akan bersama secepatnya”
~ This is the end of my story ~
NB: hanya keisengan semata dan semoga tidak mengecewakan pembaca saja.
Btw, Minato itu nama daerah di Tokyo ya? Aku sempat browsing mencari tau alamat Avex dan TBS dan aku nemu nama itu. hehe…
So, arigatou gaozaimasu…
sejarahku menjadi Cassiopeia
“Menjadi CASSIOPEIA bukanlah hal yang sulit tapi ketika kamu menjadi CASSIOPEIA maka kamu harus siap memperjuangkannya”
Dahulunya, sebelum aku mengenal DBSK, aku adalah salah satu pecinta anime dan lagu soundtrack-nya. Cukup fanatik juga dan sempat menjadi anggota komunitasnya. Tapi ditahun kedua, aku memiliki sedikit masalah dengan anggota mereka dan membuatku kurang nyaman di komunitas itu.
Ditahun yang sama, 2009, aku mengenal sebuah acara radio yang memutar lagu-lagu Asia Timut, termasuk Jepang dan Korea. Awalnya aku hanya bermaksud mendengarkan lagu-lagu Jepang-nya saja tapi tak jarang aku menyukai lagu-lagu Korea yang diputar di acara itu. Aku melakukan promosi acara itu pada teman-teman sekelasku dan hasilnya dalam satu bulan saja teman-temanku sudah ada yang menjadi K-popers. Sayangnya aku belum sepenuhnya menjadi K-popers, apalagi CASSIOPEIA. Padahal aku sudah pernah mendengar lagu DBSK yaitu Mirotic. Tapi, aku hanya sekedar suka dan belum ‘kepikiran’ untuk menjadi fans mereka.
Saat masalahku dengan komunitas memuncak, aku memutuskan untuk ‘pindah halauan’ ke musik Korea. Tapi, aku belum tahu hendak masuk fandom apa, jadi aku sering bertanya pada teman-temanku yang sudah memiliki fandom. Saat itu, akhir tahun 2009, aku mendengarkan sebuah lagu Jepang berjudul “With All My Heart” yang benar-benar membuatku terenyuh akan kata-katanya. Aku bertaya pada temanku dan ternyata itu adalah milik Tohoshinki, atau DBSK, atau TVXQ! (aku sempat bingung dengan nama grup mereka)
Sangat lucu jika aku mengingat bagaimana aku mendalami karakter DBSK dan para membernya. Berkali-kali aku bertanya dan mengetes diriku sendiri tentang siapa saja member DBSK. Dan dari lima member DBSK, aku paling tidak ingat dengan Shim Changmin, yang kini justru menjadi bias utamaku.
Memutuskan untuk menjadi CASSIOPEIA di akhir tahun 2009, dimasa ‘transisi’, bukanlah hal yang mudah bagiku. Banyak hal yang harus aku pertimbangkan, selain urusan sekolah tentunya. Imej CASSIOPEIA yang loyal dan ‘keterlambatan’-ku untuk masuk menjadi bagiannya, membuatku ragu. Apalagi masalah yang menimpa ketiga membernya (JYJ) dengan agensi SM Entertainment.
Aku menyesal baru menjadi CASSIOPEIA sekarang. Mengapa tidak dari dulu saja aku menjadi CASSIOPEIA kalau sebenarnya aku sudah menyukai mereka sejak aku mendengar Mirotic?
Apakah terlambat jika aku menjadai fans mereka sekarang?
Bukankah mereka sedang diujung tanduk yang tidak pasti?
Belum tentu jika aku menjadi CASSIOPEIA, mereka mengetahui kenyataan bahwa fans-nya semakin banyak, maka mereka akan menyudahi permasalahan itu dan tetap dibawah nama DBSK?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menyulitkanku, membuatku ragu untuk memulai.
Sampai di saat aku lepas dari UN SMP, aku mulai men-download video-video DBSK dari music video, CF, variety show, concert, hingga fanmade. Selagi itu masih ada hubungannya dengan DBSK, aku akan menyukainya.
Berbekal hobi baruku, aku memutuskan untuk menjadi CASSIOPEIA. Saat itu, aku merasa masih harus mengejar ketertinggalanku dari para CASSIOPEIA lainnya. Bukanlah hal yang mudah mengingat aku sudah tertinggal 7 sampai 8 tahun debutnya DBSK.
Saat aku adalah CASSIOPEIA, badai datang semakin kencang. Aku menyadari jika aku adalah satu-satunya CASSIOPEIA ditahun ajaran baru di SMA-ku. Kupikir, aku akan bisa melaluinya. Ternyata tidak. Hampir seluruh K-Popers di sekolahku adalah fans dari boyband seberang. Kenyataan itu sukses membuatku drop dan berpikir, “Apakah memang sebegitu langka-kah CASSIOPEIA itu?”
Tak tahunya, belum sampai enam bulan aku di sana, aku mendapati seorang senior yang juga seorang CASSIOPEIA. Bodohnya, ternyata aku sudah mengenalnya saat MOS dulu. Sempat bertukar pengalaman ini itu sih, tapi aku hanya kecewa satu hal dengannya. Ia tak se-fanatik yang kukira. Ia tidak pernah menunjukan ke-CASSIOPEIA-annya. CASSIOPEIA hanyalah sebuah nama baginya.
Beruntung aku mengenal para CASSIOPEIA di kotaku dan berkat mereka, aku merasa siap untuk terus berjuang demi nama CASSIOPEIA.
Hanya satu hal yang hingga kini membuatku salut dan mempertahankan nama CASSIOPEIA dalam diriku, yaitu kesetiaan dan kesabaran mereka. Tidak peduli seberapa keras tantangan atau gunjingan dari fandom lain, tapi para CASSIOPEIA tetap mempertahankan namanya.
Dan aku harap kekeluargaan kita akan tetap terjaga hingga akhir masa….
Friday, December 13, 2013
my second dream about changmin
Semalam, aku bermimpi…
Mimpi indah untuk kedua kalinya setelah dua tahun yang lalu…
Ini tentang keluargaku, lingkunganku, teman sekelasku, dan idolaku…
Di mimpi yang pertama, aku bertemu ayahku di kala lingkungan sekitarku mengadakan acara motivasi di masjid. Aku tak ingat detailnya, tapi ayahku menjadi salah satu panitia di acara itu. acar itu sedikit mengupas tentang alat yang dapat mengukur keimanan orang pada Allah. Alat itu juga bisa menunjukkan seberapa besar dosa orang itu. lucu memang tapi itulah isi mimpiku…
Dan aku takut saat itu. Mengingat bahwa aku juga punya banyak dosa yang belum bisa kutebus sampai saat ini. aku takut saat hasil itu keluar dan hasilnya mengecewakan. Mengecewakan orangtuaku.
Acara itu berjalan dan percobaan pertama adalah adik laki-lakiku. Dia memegang sebuah kayu panjang lalu memukulkannya ke lantai, dan hasil dari alat itu muncul di layar. Beruntung adikku tidak banyak berbuat buruk. Giliran selanjutnya, aku mulai was-was dan ternyata acaranya diistirahatkan. Karena terlalu gugup, aku memutuskan untuk ijin dan minum di rumah, karena memang rumahku berdekatan dengan masjid.
Begitu kurasa waktu istirahat habis, aku kembali ke masjid. Dan aku terkejut karena ternyata hasil sudah terpampang di layar sekalipun aku belum mencoba alat itu. seseorang mengatakan padaku bahwa alat itu juga terpasang di tangga yang aku lewati jadi wajar jika mereka sudah tahu hasilnya. Anehnya lagi, hasil alat itu sangat melenceng dari konsep awalnya. Di sana tertulis namaku setelah nama teman sekelasku, Roinsyiati Azizah, yang jelas-jelas tidak satu lingkungan denganku.
Namaku, tangan indah, Thomson ….
Aku mengernyit bingung. Tangan indah? Apa maksudnya? Apalagi Thomson siapalah itu? Jodohku? Aduh, kok ngaco ya? Yah, setidaknya itulah yang terbesit dalam pikiranku….
Kedua, setelah acara itu, aku ada di sebuah ruangan yang luas dan di sana aku bertemu dengan orang-orang yang tak kukenal. Hingga seorang laki-laki jangkung menghampiriku dan aku terkejut ketika menyadar bahwa dia adalah Shim Changmin “TVXQ” Apalagi dia tampak menghampiriku sambil membawa sebuah boneka beruang setengah badan. Aku sudah gila ketika melihatnya. Apalagi saat ia benar-benar ada di depanku dan memelukku. Astaga! Sebelum tidur seingatku aku sudah berdoa, kenapa bertemu Changmin di mimpiku? Apakah karena aku terlalu memujinya saat bermain basket? Hell no! bahkan Changmin tidak akan tau aku memujinya atau tidak.
Laki-laki bernama Shim Changmin itu memang menyebalkan kelihatannya tapi aku yakin dia orang yang baik, sangat baik malah. Aku tidak tau apa yang membuatku menyukainya padahal aku lebih suka kisah hidup dan pedoman hidup Jung Yunho “TVXQ”
Nah, setelah sesi pelukan itu, Changmin segera pergi dan meninggalkan bonekanya padaku. Aku yang kebingungan akhirnya mencarinya dan bermaksud mengembalikan bonekanya. Seorang perempuan berusia sekitar 25 tahun melewatiku dan aku menghentikannya.
“Nona mengenal Changmin? Shim Changmin?”
Perempuan itu mengangguk, “Iya. Aku mengenalnya. Ada apa?”
Aku mengulurkan boneka itu padanya, “Bisa kau berikan ini padanya? Dia meninggalkannya tadi.”
Perempuan itu mengernyit sebentar lalu tersenyum padaku, “Aku tidak bisa. Bawa saja dulu.”
“Tapi aku tidak tau alamatnya.” Kataku memelas.
Perempuan itu mundur beberapa langkah sambil berkata, “Kau akan bertemu lagi dengannya.”
+ THE END +
(11 Desember 2013)
Ya Allah, ini mimpi keduaku bertemu dan kontak fisik dengan Changmin. Ishh! Aku tidak menyangka bahwa aku juga akan mencatatnya lagi.
Ah, mimpi pertama aku buat dalam bentuk fanfic dan beberapa bagian hanya mengarang. Tapi ini? Astaga! Aku tidak bisa berkomentar banyak atas mimpi ini!
Aku hanya berdoa semoga kekagumanku pada Shim Changmin tidak berubah menjadi OBSESI!
Subscribe to:
Posts (Atom)