Kala
itu, mereka bilang bahwa ibuku tidak akan bisa memiliki anak. Bukan. Bukan
karena Ibu memiliki penyakit, melainkan karena Ibu memiliki pinggang yang kecil
sehingga dianggap tidak akan mampu untuk melahirkanku.
Tapi,
Bapak dan Ibu-ku tidak pernah menyerah, mereka mengabaikan ‘’omongan”
orang-orang di sekitar mereka dan melakukan usaha untuk membuktikan bahwa
pernyataan mereka salah. Bapak dan Ibu terus berdoa setiap malam agar diberikan
‘malaikat kecil’ yang mengisi hari-harinya.
Hingga
saat itu tiba…
Ibu
bermimpi, ia melihat sebuah bulan penuh yang bersinar sangat terang hingga
mampu menentramkan hatinya.
Tak
selang waktu lama, sebuah kabar yang mereka nanti tiba. Ibu mengandung dan
mereka akan menjadi keluarga yang lengkap.
Tak
sampai di situ cobaan mereka, menjelang hari kelahiranku, justru Bapak harus
pergi. Bukan ‘pergi’ dalam arti tidak akan kembali lagi, melainkan harus
merantau untuk mencari uang untuk menghidupi keluarga mereka. Saat itu,
pekerjaan di desa tidaklah sebanyak sekarang, hanya ada petani, pedagang, dan
peternak. Bapak yang tidaklah memiliki pendidikan tinggi, terpaksa meninggalkan
Ibu. Meski terpaksa tapi Ibu tetap mencoba tegar dan berpikir positif.
Waktu
berlalu dengan cepat dan hari itu tiba… hari di mana kelahiranku… kelahiran
yang ditunggu oleh dua keluarga besar Bapak dan Ibu…
Sebuah
cahaya anak pertama…