TVXQ5!

TVXQ5!
Rising Gods of the East

Sunday, December 29, 2013

WHITE WINTER MIRACLE

Rasanya seperti mimpi…. Sepertinya baru kemarin aku memimpikan terbang ke Negeri Sakura dan menikmati acara-acara di setiap musimnya. Kini, mimpi itu bisa kucapai. Aku berdiri di antara ribuan partikel kecil berwarna putih yang berjatuhan dari langit. Ya, di Jepang memang sedang musim dingin. Kutengadahkan kepala dan tanganku, mencoba menikmati udara dingin yang tak mungkin bisa kucicipi di negara asalku, di mana hanya ada dua musim di sana. Mataku menjelajahi setiap sudut bangunan di sekitarku. Terperangah karena gemerlapnya malam ini oleh lampu-lampu dari gedung-gedung itu. jalanan yang padat oleh para pejalan kaki membuatku sedikit tenang karena tidak ada polusi di sini. Aku kagum lagi. Ini hari pertamaku dan itu wajar, bukan? Mengingat lagi motivasiku ke negeri ini, aku tersenyum lebar. Bisakah aku bertemu mereka? Ini sudah malam dan seharusnya mereka sedang beristirahat di rumah mereka. Dengan sisa tenaga dan secuil harapan, kulangkahkan kakiku lagi. Menghampiri ‘Cassiopeia’. ~ We’re the One, Eternally ~ Sebuah Audy hitam berhenti di depan pagar rumah. Seseorang keluar dari mobil itu tanpa mematikan mesin mobilnya ─mungkin lampu mobil itu bisa membantu penyinaran di sana─ bermaksud membuka pagar itu. Setelah menekan beberapa tombol, pagar itu terbuka dan menampakkan rumah mewah bercat cokelat kayu dengan halaman yang cukup luas. Ketika laki-laki itu hendak berbalik masuk ke dalam mobil, ia melihat seseorang yang tengah berjongkok di tepi pagar rumah itu. Meski awalnya ragu, laki-laki itu tetap menghampiri orang itu. Semakin dekat ia menyadari jika sosok yang dilihatnya adalah seorang perempuan, terlihat dari rambut hitam panjang yang dibiarkan tergerai hingga menutupi kepalanya yang sedang menunduk. Tubuhnya tampak gemetar, mungkin kedinginan. “Hei, daijobu ka?” tanya laki-laki itu sambil membungkukkan badannya. Menyejajarkan tubuhnya dengan posisi perempuan itu. (Hei, kamu baik-baik saja?) Namun ia tak mendapatkan jawaban. Justru tubuh kecil itu semakin gemetar hebat. Karena khawatir, laki-laki jangkung itu meraih bahu perempuan itu. Sekian detik kemudian, tubuh kecil itu seperti kehilangan keseimbangan. Refleks diraihnya tubuh itu dan laki-laki itu menyadari satu hal, perempuan itu pingsan karena kedinginan. ~ We’re the One Eternally ~ Kepalaku terasa pusing, pening. Perlahan kubuka mataku sambil memegang keningku. Rasanya tanganku sedikit kebas. Kurasakan sebuah benda basah di atas dahiku yang aku yakini adalah sebuah kain untuk mengompres. Tapi, siapa yang memberiku kompres? Seingatku, aku belum pulang dari depan rumah …. “Oh God!” pekikku terkejut sambil mendudukkan tubuhku yang justru membuat kepalaku sakit. Sekali lagi kupijat keningku yang trasa berputar. “Hey, are you ok?” sebuah suara asing menyapa pendengaranku. Aku tak yakin dan segera menoleh ke sumber suara. Dan betapa terkejutnya aku saat aku sadar laki-laki yang duduk di depanku adalah… “Changmin Oppa?” Laki-laki jangkung itu mengerutkan keningnya. Mungkin terkejut karena aku tau namanya. Iyalah, aku tau namanya. Siapa yang tidak mengenal member termuda boyband papan atas Asia? “Err, you know me?” tanyanya ragu. Aku mengangguk mengiyakan sambil menatapnya dengan senyum terpatri di bibirku. Sungguh senang rasanya bisa bertemu dengan idolaku. Ya, aku adalah seorang Cassiopeia, fans TVXQ. “My name is Saitou Ayumu.” Kataku sambil mengulurkan tangan padanya. Dengan ragu, dibalasnya uluran tanganku sambil bertanya, “Are you Japanese?” Aku menarik tanganku lalu menggeleng. “Ie. I’m Javanese.” Jawabku sambil tersenyum kecil. “I mean, I’m from Indonesia.” (Tidak. Aku adalah orang Jawa.) “Nande?” pekiknya terkejut. Laki-laki bermarga Shim di depanku mengerjabkan matanya, terkejut. “Oh, I’m sorry. I mean, are you really from Indonesia?” (Apa?) Aku mengangguk lalu membalasnya, “Yes, but I understand Japanese and Korean eventhough just little.” Laki-laki berwajah kekanakan di depanku sedikit menganggukkan kepalanya mengerti. Tak lama kemudian, kudengar suara pintu terbuka dan masuklah seorang laki-laki berusia 27 tahun yang kukenal sebagai leader TVXQ. Yeah, he’s Jung Yunho. “Apakah dia sudah sadar, Changmin-ah?” tanya laki-laki bermata tajam itu dengan bahasa Korea. Meski aku tidak mengerti secara keseluruhan tapi aku cukup mengerti maksudnya. Laki-laki itu membawa sebuah nampan berisi bubur dan susu coklat hangat yang ia letakkan di atas meja. “Are you ok?” tanyanya padaku. Matanya menatapku lembut. ‘Seperti inikah tatapan mematikannya? Sekalipun pada orang yang baru dikenalnya’ Sedikit gugup aku menjawab pertanyaannya, “Hmm, yes. I’m fine.” Lak-laki manly itu tersenyum, menguarkan aura penuh karismanya. Sementara itu, aku melirik Changmin Oppa yang tengah memutar bola matanya. Mungkin terlalu silau dengan karisma leader-nya. “So, what’s your name and where do you from?” tanyanya ramah. “My name¬ is_” “Nama Jepangnya Saitou Ayumu tapi dia orang Indonesia.” Potong Changmin dalam bahasa Korea. Aku sedikit sebal karena Changmin Oppa memotong kalimatku. Sementara Yunho Oppa hanya mengangguk samar seolah mengerti. “Oh, kalau kau sudah cukup baikan makanlah ini.” katanya dalam Bahasa Inggris sambil menyerahkan semangkuk besar bubur, “dan…” “Lekaslah pulang!” potong Changmin Oppa sambil meringis, mungkin karena merasa lucu dengan candaannya. “Changmin!” bentak Yunho Oppa sambil mencubit lengan ‘adik’-nya. Yunho Oppa kembali menatapku dan mendudukkan diri di sebelah kananku, “Kalau boleh tau, kau tinggal di mana?” Aku meletakkan mangkuk bubur di pangkuanku, rencana untuk makan dahulu sepertinya akan gagal. “Aku tinggal di Minato(1), Tokyo.” Dua laki-laki di hadapanku menganggukkan kepalanya. “Bukankah itu daerah di sekitar kantor Avex?” tanya Changmin Oppa memastikan. Ia bahkan manatapku dan Yunho Oppa bergantian. Aku hanya tersenyum mengiyakan. “Lalu, apa yang kamu lakukan di depan rumah kami?” Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan mereka. Aku memang punya tujuan datang kemari tapi apakah aku harus jujur? “Hyung, dia fans kita jadi wajar kan kalau dia kemari.” Sela Changmin memberi pengertian. Yunho Oppa ber-‘oh’ ria sementara aku mencoba mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan maksudku. “Tapi…aku juga punya tujuan lain.” ~ We’re the One Eternally ~ “Aku tau, kalian pasti tidak tuli akan beberapa pernyataan ini tapi aku hanya ingin menegaskan bahwa aku juga menunggunya.” “Menunggu apa?” “Tentu saja kembalinya kalian berlima.” “….” “Aku mungkin hanya satu dari sekian ribu fans kalian yang belum tentu bisa mengubah pemikiran tapi_” “Kembali bersama dalam waktu dekat bukanlah hal yang mudah.” “Ya, memang. Aku tau itu.” “….” “Oppadeul, taukah kalian? Aku baru menjadi Cassiopeia pada tahun 2010 dan artinya itu saat permasalahan itu tercium media. Aku menyesal mengapa aku tidak menjadi Cassiopeia sejak dulu saja, sehingga aku bisa merasakan bagaimana menangis dan tertawa bersama kalian berlima. Tapi apa yang kudapatkan, kalian justru terpisah oleh dinding kasat mata. Itu menyakitiku.” “….” “Aku menyadari aku tidak bisa berbuat banyak, aku…hanya ingin mengatakan bahwa di luar sana, kami semua, Cassiopeia dan Bigeast, menunggu kembalinya kalian berlima. Mungkin tidak dalam waktu dekat ini tapi berjanjilah kalian akan bersama secepatnya” ~ This is the end of my story ~ NB: hanya keisengan semata dan semoga tidak mengecewakan pembaca saja. Btw, Minato itu nama daerah di Tokyo ya? Aku sempat browsing mencari tau alamat Avex dan TBS dan aku nemu nama itu. hehe… So, arigatou gaozaimasu…

No comments:

Post a Comment