TVXQ5!

TVXQ5!
Rising Gods of the East

Sunday, December 29, 2013

BELAJAR JADI DETEKTIF ALA JAMAN EDO

Judul : The Demon in the Tea House Penulis : Dorothy dan Thomas Hoobler Penerbit : Dastan Books Tahun terbit : 2009 Cetakan : I Jumlah halaman: 320 halaman Katergori : novel Dorothy dan Thomas Hoobler adalah sejarawan serta penulis dari 60 buku, baik fiksi maupun nonfiksi, kebanyakan untuk pembaca muda. Society for School Librarians International memilih buku mereka “Showa; The Era of Hoirohito” sebagai buku terbaik pada tahun 1991. Buku-buku mereka dinilai memiliki keunggulan tersendiri. Buku “The Demon in the Tea House” ini merupakan seri kedua Kisah Seikei Konoike, setelah buku pertama yang berjudul “Tokkaido Inn.” Buku ini menceritakan seorang pemuda bernama Seikei Konoike yang merupakan anak saudagar the di Jepang pada masa Shogun Yoshimune. Meski seorang anak pedagang yang kelak akan meneruskan usaha orangtuanya, Seikei masih berharap ia dapat menjadi samurai. Meskipun hal itu sangat tidak mungkin. Kebudayaan Jepang, tidak ada kenaikan kasta. Apalagi saudagar merupakan kasta terendah pada masa itu karena mereka hanya menjual barang yang telah jadi. Berulang kali ayah Seikei mengatakan bahwa pemuda itu tidak akan bisa menjadi samurai, sekalipun ia terus belajar membuat puisi ─seperti yang biasa dilakukan samurai di Jepang pada umumnya. Tapi Seikei tetap berharap impiannya bisa terwujud hingga suatu saat ia tak sengaja membantu Hakim Ooka untuk menyelesaikan kasus pencurian permata berharga. Hakim Ooka menguji Seikei lebih jauh dan setelah kasus itu terbongkar, Hakim Ooka mewujudkan impian Seikei menjadi samurai yakni dengan mengadopsi Seikei menjadi anaknya. Di buku kedua ini, Seikei berpetualang di Edo, ibu kota militer Jepang. Memecahkan kasus tentang Geisha misterius, pembakaran kota, dan dendam membara. Semua itu akan menjadi konflik yang sangat kental dalam buku ini. Kita juga akan diajak untuk belajar memecahkan kasus ala detektif. Keunggulan buku ini adalah komunikatif dan dapat menciptakan latar suasana yang dapat dibayangkan oleh pembaca sehingga pembaca bisa ikut masuk ke dalam cerita. Selain itu, konflik yang diangkat juga menarik yang dikemas dengan pengetahuan-pengetahuan kecil dari masa Edo. Hanya saja di buku ini kita akan banyak menjumpai istilah-istilah dalam bahasa Jepang, yang belum tentu kita pahami artinya. Penjelasan latar tempat sudah jelas namun untuk orang yang tidak mengetahui kondisi Jepang pada masa kekaisaran akan sulit untuk membayangkannya. Nah, buku “The Demon in the Tea House” ini cocok untuk para pecinta novel detektif dan bertemakan Jepang. Buku ini akan mengajarkan pada kita untuk bagaimana mengatasi masalah dan berpikir dingin. NB: mohon kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki tulisan saya :)

No comments:

Post a Comment