TVXQ5!

TVXQ5!
Rising Gods of the East

Tuesday, April 29, 2014

My First Love, My First Kiss

. ♡ MY FIRST LOVE, MY FIRST KISS ♡ . Hei, aku…mencintaimu…sejak dulu… . . . Kami berteman sejak dulu, sejak kecil. Tanggal lahir kami tidak terlalu jauh, hanya berselang dua bulan. Dia…selalu menjadi orang yang menarik bagiku. Dia tidakah tampan tapi dia orang yang manis dan baik di mataku. Kami menghabiskan duabelas tahun bersama, sekolah dan tempat tinggal kami. Itulah mengapa aku merasa dekat dengannya. Sejak aku duduk di taman kanak-kanak, yang kutahu, ia selalu menjadi idola anak-anak perempuan. Karena kebaikan hatinya dan wajahnya yang tampak manis. Aku masih ingat, senyumnya sungguh lucu saat itu. Kami dan kedua temanku yang lain sering pulang sekolah bersama. Karena masih belum bisa mengendarai sepeda, kami terbiasa jalan kaki ke sekolah. Sesekali aku berpikir bahwa akan sangat menyenangkan jika aku jalan berdua dengannya, karena kedua temanku yang lain berada di sisi lain jalan. Saat aku berkumpul dengan teman-teman perempuanku selepas bermain, topik tentang orang yang kami sukai pun jadi bahasan. Tiga dari lima teman perempuanku memilihnya, meski terpaksa kedua temanku terpaksa ganti pilihan. Saat tiba giliranku, aku hanya menunduk. Sejujurnya, aku ingin memilihnya tapi aku tidak bisa memilih yang sudah ditunjuk temanku yang lain. “Jangan bilang kalau kamu juga akan memilih orang yang sama dengan mereka.” Kata ‘tetua’ kami yang tentu membuatku dihadiahi tatapan sinis dari ketiga temanku. Aku hanya mampu menelan ludah secara paksa, “Err, bukan. Lagipula, Linda sudah memilihnya. Bukankah tidak ada yang boleh sama?” kataku mengelak, “Aku pilih…” aku menyebutkan nama sepupuku yang sering menginap di rumah nenekku saat lebaran. Hanya nama itu yang sempat singgah di pikiranku. Sejak saat itu, aku berusaha mengalah, memendam perasaan sukaku padanya. Hei, D. Mungkin kita tidak bisa bersama. Seseorang telah memilihmu. Lucunya, saat kami bermain, ada saja tingkah polah kami yang seakan mencoba menarik perhatiannya. Entah duduk di depannya, saling melempar candaan, apa sajalah. Di luar kendali, aku pun sering mengalami hal-hal yang kebetulan dengannya. Saat aku keluar rumah, bertepatan dengannya yang juga tengah melintas di depanku. Aku..hanya bisa berpura-pura cuek dan tak peduli. Meski dalam hatiku, aku menghitung dan berdebar. Jika hal ini terus terjadi selama tiga kali, maka kita adalah takdir, kataku dalam hati. . . . Selang waktu menginjak kelas lima sekolah dasar, sekolah mengadakan kemah Sabtu-Minggu. Aku senang, tentu saja. Kami bersenang-senang. Tak terasa aku sudah memasuki masa puber dan semakin banyak anak laki-laki yang ─terlihat─ menarik perhatianku. Entah menggodaku lewat kata-kata atau tingkah laku secara langsung. Bahkan…saat seorang anak laki-laki menarik tanganku dan memerangkapku dalam kukungannya, jantungku berdebar. Ia mendekatkan wajahnya ke arahku tapi aku bergegas mendorongnya dan berteriak, “Apa yang kamu lakukan?” dan ia hanya tersenyum aneh. Di belakangnya, beberapa anak laki-laki juga tersenyum aneh padaku. Selalnjutnya, aku berbalik dan pergi. Oh damn! Apa yang ada di pikirannya? Dia kira kami umur berapa? Kami masih SD dan ia sudah bersikap menggoda layaknya orang dewasa. Dasar gila! Gerutuku dalam hati. Tapi, hei, D, apa kau tidak cemburu? Bahkan teman-temanmu sudah mulai menggapaiku. Saat kita hampir lulus, dia selalu berhasil membuatku malu. Padahal hanya sekadar meminjaminya type ex. Meski aku bilang, “Memangnya kamu tidak punya uang untuk membelinya?” tapi sesungguhnya jantungku selalu bergetar nyaman tiap melihatmu tersenyum menggodaku. . . . Tapi semenjak kita berpisah sekolah, aku merasa kosong. Tak ada lagi yang bisa membuatku tersenyum malu. Kala aku ke barat, kau ke timur. Jalan kita berbeda. Dan kau, mulai mengerti arti ‘pacaran’. Hubungan yang belum kutahu manfaatnya. Sekalipun aku ingin mencobanya bersamamu. Tapi naas, lagi-lagi aku hanya mampu memendamnya. Sekarang pun, kita masih berbeda sekolah. Bahkan akan menginjak usia 19 tahun, di mana kita harus memutuskan langkah kita. Kau dan aku berbeda. Aku ingin sekolah tinggi, menambah banyak teman. Tapi kau, bertahan dengan baktimu pada orangtua dan pergi ke arah yang berbeda denganku. Benarkah kita akan berpisah lagi? Jika iya, jangan memberiku harapan palsu. Hentikan senyum bodohmu itu. Aku lebih suka saat aku membencimu daripada saat aku terombang-ambing karena perasaanku. Dulu aku sempat membencimu karena sifatmu yang berubah tapi kau kembali dengan senyum itu. Senyum yang membuatku tak bisa berpaling darimu. Hentikan itu atau aku aka mati karena harapan palsumu!!! . . . “Hei, berapa lama kita tidak bertemu?” tanyamu padaku, sambil duduk di sebelahku dan melempar senyum terbaikmu. Lagi-lagi aku terjatuh dalam pesonamu. Pura-pura tak peduli, aku kembali melanjutkan cerita yang sedang kukerjakan. Jemari ini masih menari di atas huruf dan angka. Mengetikkan beberapa kata yang akan sulit kau susun. Aku tahu, kau tidak bisa menyusun kata-kata dengan baik, D. “Tujuh tahun, mungkin.” Jawabku seadanya. “Kudengar kau baru pulang dari tempat tugasmu. Kapan kau pulang?” tanyaku membuka perbincangan kami karena di antara kami berdua akulah yang paling ahli mencari topic pembicaraan. “Tadi pagi. Aku lelah.” “Kalau kau lelah kenapa bisa di sini? Kau bisa tidur di rumah seharian, kan?” aku menoleh padanya, yang sedang menatap langit, “Apa tempat tidurmu sudah dibuang?” candaku. Ia tertawa nyaring, bahkan suara tawanya masih sama. Ia menatapku lalu menjawab, “Tidak, bukan karena tempat tidurku. Aku hanya ingin mencari udara segar. Keluargaku sedang menyiapkan acara makan malam, penyambutanku katanya. Kau akan datang?” Aku mengangkat bahu lalu mengalihkan tatapanku, kembali menatap netbook di pangkuanku. “Jika kau memaksa, aku akan datang.” Ia tertawa lagi. Entah apa yang ia tertawakan kali ini. Hening beberapa lama. Hanya hembusan angin musim pancaroba yang menyapa kami. Member ketenangan sekaligus menghapus kecanggungan. Meski begitu, tak ada satupun dari kami yang ingin buka suara. “Hmm, kau tidak haus?” tanyanya memecah keheningan. “Aku haus. Tapi minuman yang kubawa sudah habis.” Jawabku sekenanya. Aku tidak ingin terjebak lagi, jadi aku mencoba untuk tidak tertipu. Tiba-tiba ia berdiri, “Aku akan pergi membeli minum. Sebentar.” Katanya sambil lalu. Meninggalkanku yang tengah mengernyit bingung. Satu hembusan panjang kukeluarkan. Menutup benda di pangkuanku lalu meletakkannya di sebelahku. Tubuhku lelah. Aku memutuskan untuk berbaring karena kupikir dia pasti akan lama. Kupejamkan mataku, mencari ketenangan. Mengontrol diri. . . . Laki-laki itu tiba di bukit dengan dua kaleng minuman di tangannya. Setengah berlari ia menghampiri pohon satu-satunya di sana. Ia tidak akan melewatkan kesempatannya kali ini. Sudah lama ia menunggu kesempatan berdua dengan gadis impiannya itu. Cinta monyetnya. Cinta masa kecilnya. Cinta pertamanya. “Ini aku_” laki-laki itu terdiam, ia hanya mendapati gadis itu terlentang di bawah pohon rindang itu. Ia tersenyum senang. Ia berjalan mendekat dan meletakkan kedua kaleng minuman di dekatnya lalu duduk di sebelah gadis itu. Entah keberanian dari mana, tangannya membelai pelan rambut hitam itu. Ia sudah memimpikan hal ini bertahun-tahun yang lalu. Ia melebarkan senyumannya. “Kau tahu, aku sudah lama menunggu momen seperti ini. Dan akhirnya, hal itu terjadi juga. Hari ini.” Laki-laki itu memperhatikan wajah gadis itu, ia teringat rangkaian kejadian di masa kecilnya. Sejujurnya ia suka melihat gadis itu tersenyum di dekatnya, karenanya. Tapi hal itu tidak bisa ia lakukan saat mereka duduk di bangku sekolah menengah. Semakin diperhatikan, gadis itu semakin menarik perhatiannya. Membiusnya, membuatnya tak sadar jika ia tengah mendekatkan wajahnya ke arah sang gadis. Memejamkan mata saat ia bisa merasakan hembusan nafas gadis itu. Saat hidung mereka bersentuhan, digesekkannya kedua kulit putih bertulang itu. membuatnya merasakan sensasi berbeda mendera tubuhnya. Ketika satu mili lagi menyentuh bibir gadis itu… . . . Cup! “Mmmppphhh…” Aku membuka mataku buru-buru saat kurasakan nafas itu terasa sangat dekat denganku. Dan yang pertama kali kulihat adalah mata indahnya yang terpejam, tepat di depanku tanpa jarak. “Aku pasti bermimpi!” teriakku dalam hati. “Mmmppphhh….” Dia…menekan bibirku. Ini gila! Tapi tubuhku, kenapa terasa lemas. Aku tidak bisa bergerak sama sekali. Dia…sudah menyedot tenagaku bersamaan dengan bibirnya yang mulai mengulum bibirku. “Aku pasti sudah gila!” teriakku lagi, masih di dalam hati. Ketika tenagaku mulai kembali, aku mencoba untuk mendorongnya tapi naas, aku kalah cepat dengannya. Ia sudah menahan kedua tanganku dan justru berpindah di atasku. Bahkan ia mulai menggigit bibirku hingga membuatku mengerang sakit dan berujung lidahnya yang masuk ke dalam mulutku. “Matilah aku!” Kupejamkan mataku, mencoba menikmati sekaligus mengumpulkan kekuatan untuk melawan. Saat ia lengah, aku mendorong tubuhnya dengan keras dan membuatnya terjatuh di sampingku. Kuhirup udara di sekitarku dengan rakus seolah aku baru saja bangkit dari mimpi buruk. Setelah merasa cukup, aku beranjak dari dudukku. Mengambil netbook-ku dan melangkah menjauh tapi ia meneriakiku. “TUNGGU!!!” Aku segera berhenti di tempatku, masih tak jauh dari tempatnya duduk. Aku tidak mengatakan apa pun, hanya menunggunya mengatakan sesuatu. Member penjelasan mungkin. Dia beranjak dari tempatnya, berjalan menghampiriku, lalu berhenti tepat beberapa puluh senti di depanku. Aku menatapnya penuh tanya tapi masih menutup mulutku. Sementara itu dia justru tampak ragu mengatakannya, hingga bermenit-menit berlalu ia tak mengatakan apapun. Membuatku kesal. Tapi saat aku hendak berkata, ia sudah mengatakan hal yang jauh dari perkiraanku. “Aku mencintaimu.” “Apa?” pekikku terkejut. Aku menoleh ke arah lain. “Aku pasti salah dengar.” “Tidak!” dia beranjak mendekatiku lalu meraih wajahku, memaksaku untuk menatapnya. “Aku serius. Aku…menyukaimu…mencintaimu…sejak dulu.” Aku menatapnya bingung. Menatap matanya, mencoba mencari kebohongan yang gagal kutemukan. “Oh sial!” umpatku dalam hati. “Jangan sampai aku terjatuh di lubang yang sama.” “Aku menyukaimu sejak dulu tapi karena aku tahu, kau tidak akan keluar dari aturan keluargamu, aku tidak bisa meraihmu. Dan saat itu, aku belum mampu.” Ia menatapku dengan tatapan yang berbeda, lembut. “Sekarang, aku akan meraihmu, memperjuangkanmu. Jadi beri aku kesempatan.” . . .

No comments:

Post a Comment